Selama bertahun-tahun, istilah kelas menengah identik dengan kehidupan yang stabil: punya penghasilan tetap, mampu membeli kebutuhan dasar sekaligus sedikit kemewahan, serta merasa aman secara finansial. Kelas menengah bahkan sering dianggap sebagai simbol kemajuan ekonomi dan perkembangan masyarakat.
Namun, di tengah berbagai krisis global, inflasi, dan kebijakan pemerintah yang menaikkan biaya hidup, semakin banyak orang kelas menengah kesulitan memenuhi kebutuhan sehari-hari. Pertanyaannya: benarkah mereka kini menjadi “orang miskin baru”?
Apa Itu Kemiskinan?
Menurut Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), seseorang dikategorikan “miskin” jika:
- hidup dengan pengeluaran kurang dari US$2 / IDR 33.370 per hari
- tidak memiliki akses terhadap kebutuhan dasar manusia,
- dan terhalang dalam memperoleh hak serta peluang.
Tapi faktanya, semakin banyak pekerja kelas menengah — guru, perawat, insinyur, hingga karyawan swasta — yang mulai mengalami kesulitan. Bahkan hal sederhana seperti berlangganan layanan streaming kini dianggap kemewahan yang harus dipangkas.
Fenomena ini bukan hanya di satu negara, tetapi juga di Amerika Serikat, India, Indonesia, Ghana, dan banyak wilayah lainnya.
Kenapa Kelas Menengah Semakin Sulit Bertahan

- Pendapatan Tidak Seimbang dengan Kenaikan Biaya Hidup
Harga kebutuhan pokok, sewa rumah, hingga biaya sekolah melambung jauh lebih tinggi dibanding satu dekade lalu, sementara gaji tidak naik sepadan. - Utang Semakin Menjerat
Kartu kredit dan pinjaman jadi penopang hidup banyak orang. Akibatnya, gagal bayar semakin sering terjadi. Di Amerika Serikat, utang rumah tangga mencapai triliunan dolar, sementara di Nigeria banyak keluarga kelas menengah terjebak gagal bayar. - Tabungan Hampir Hilang
Tabungan darurat makin jarang dimiliki. Generasi muda ingin menabung, tetapi biaya hidup membuat hampir mustahil menyisihkan uang. - Layanan Dasar Terasa Mewah
Pendidikan swasta, layanan kesehatan berkualitas, dan hunian layak makin sulit dijangkau. Banyak keluarga harus memilih antara layanan publik yang terbatas atau swasta yang harganya melambung. - Keamanan Kerja Melemah
Pekerjaan tetap makin jarang. Banyak orang hanya mendapat kontrak jangka pendek, kerja paruh waktu, atau masuk ke sektor gig economy. Perkembangan teknologi dan AI semakin mengubah pola kerja tradisional.
Bisakah Penjualan Langsung Membantu Kelas Menengah?

Ya! Direct selling (penjualan langsung) — model bisnis yang fokus pada pemasaran dan penjualan produk atau jasa langsung ke konsumen — telah lama terbukti sebagai platform untuk mencapai keberlanjutan finansial.
Di tengah iklim ekonomi sekarang, penjualan langsung menawarkan fleksibilitas, keamanan, dan dukungan berbasis komunitas. Hal ini memberi kelas menengah harapan dan arah baru untuk bangkit.
Menurut laporan tahunan 2024 World Federation of Direct Selling Associations (WFDSA):
- saluran penjualan langsung global menghasilkan sekitar USD 167,6 miliar penjualan ritel di tahun 2023,
- dengan hampir 103 juta distributor berkontribusi di seluruh dunia.
Angka ini menegaskan bahwa penjualan langsung bukan sekadar aktivitas pinggiran, tetapi peluang kewirausahaan global yang tangguh dan berkelanjutan.
Harapan untuk Masa Depan
Apakah kelas menengah kini menjadi “orang miskin baru”? Dalam banyak aspek, iya — tekanan finansial dan ketidakpastian membuat mereka berada di ujung tanduk. Tapi ini bukan akhir.
Dengan strategi yang tepat, keterampilan baru, serta dukungan komunitas yang solid, kelas menengah tetap bisa bertahan, bahkan berkembang. Direct selling hadir sebagai salah satu solusi nyata untuk membuka peluang penghasilan tambahan, fleksibilitas kerja, dan keamanan finansial yang lebih baik.