Glutathione untuk Tubuh Kuat Lewati Musim Hujan

Beralihnya musim panas ke musim hujan di penghujung tahun menyebabkan perubahan pada suhu lingkungan. Perubahan temperatur sedikit banyak berpengaruh pada tubuh, karena tubuh otomatis akan berusaha menyesuaikan dengan temperatur sekitar. Saat itu pula imunitas rentan menurun.
Di sisi lain perubahan temperatur juga menjadi sarana yang cocok bagi mikroorganisme untuk berkembang. Sehingga di musim hujan ini kerap muncul beberapa penyakit seperti flu, pilek, diare, demam, batuk atau bahkan penyakit gatal pada kulit.

Meski demikian musim hujan bukan sesuatu yang mesti dikhawatirkan secara berlebihan. Dengan berolahraga dan mempersiapkan asupan yang tepat akan membantu tubuh lebih tahan dari serangan penyakit tersebut. Salah satu cara untuk mengoptimalkan sistem imun tubuh adalah dengan mengonsumsi nutrisi tambahan agar tubuh menghasilkan glutathione.

Glutathione atau GSH (Glutathion Sulph Hydril) adalah protein yang terdiri dari 3 asam amino utama (glutamin, sistein, glisin). Sejak kecil tubuh mampu menghasilkan Glutathione secara alami namun memasuki usia 20 tahun produksi Glutathione di tubuh perlahan menurun, membuat kita rentan terhadap penyakit saat kita bertambah tua.

Tidak seperti antioksidan lain, Glutathione bekerja di dalam sel melindungi DNA dari efek berbahaya radikal bebas. Tanpa zat ini, maka antioksidan seperti vitamin A, vitamin C dan vitamin E tidak bekerja secara optimal. Itulah sebabnya Glutathione disebut sebagai master antioksidan.

Ada beberapa makanan sumber Glutathione seperti brokoli, bayam, wortel, tauge, kol, kembang kol, alpukat, dan lainnya. Selain itu Glutathione juga bisa didapat dengan mengonsumsi suplemen tertentu, namun kenyataannya hal itu tidak efektif. Saat diasup apa adanya Glutathione sangat mudah teroksidasi dalam sistem pencernaan dan tidak terserap dengan baik.

Metode paling efektif adalah mempercepat produksi Glutathione dari dalam tubuh, dan untuk melakukannya, dibutuhkan prekursor – blok pembangun utama untuk memproduksi Glutathione.
Dari tiga asam amino yang membentuk formula prekursor untuk produksi Glutathione, Sistein tidak dapat diserap dengan mudah karena sifatnya yang tidak stabil. Sistein dihancurkan dalam saluran pencernaan sebelum mencapai sel Anda. Maka dibutuhkan sistem pengantaran unggul agar Sistein dapat bertahan melalui sistem pencernaan dan diserap ke dalam sel.

EDG3 memiliki formulasi khusus untuk memastikan sistem pengantaran yang sempurna sampai diserap, sehingga tubuh dapat memproduksi Glutathione secara alami. Formula EDG3 ditemukan oleh ilmuwan Dr Albert B Crum.

“Sistem pengantaran khusus ini telah memperoleh US patent untuk penemuan terobosan dan dampak menguntungkannya bagi tubuh, sehingga dapat bekerja jauh lebih baik daripada formula Glutathione lainnya di pasaran. Ini merupakan hasil penelitian 25 juta dolar yang didanai oleh National Institute of Health, AS,” kata Dr Selvam Rengasamy, Health Advisory Board of QNET.

EDG3 membantu tubuh mengaktifkan produksi Glutathione di dalam sel. Dengan kadar Glutathione yang cukup akan berperan melindungi sel dari radikal bebas yang bersifat merusak. Dengan demikian tubuh akan lebih tahan terhadap dari serangan penyakit yang biasa menyerang di musim hujan. Hasil yang umumnya dirasakan oleh mereka yang rutin mengonsumsi EDG3 antara lain tubuh lebih tahan dari flu dan sinus, serta kulit tampak lebih cerah.

“EDG3 yang kami pasarkan dibuat dengan formulasi lengkap pertama dan satu-satunya di pasar yang menggunakan sistem penyampaian yang telah dipatenkan,” kata CEO QNET Trevor Kuna.

Tambahkan Komentar

Dapatkan update terkini
QBuzz Indonesia di inbox anda

Berlangganan ke milis kami.

Terima kasih untuk berlangganan

Sesuatu telah salah